Pengertian Akad Tijarah dan Jenisnya


Accounting Media – Akad Tijarah (compensational contract) merupakan akad yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan. Dari sisi kepastian hasil yang diperoleh, akad Tijarah sapat dibagi menjadi dua, yaitu natural uncertainty contract dan natural certainty contract. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing hal tersebut dan jenis-jenisnya.

Natural Uncertainty Contract
Merupakan kontrak yang diturunkan dari teori pencampuran dimana pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asset yang mereka miliki menjadi satu, kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan. Oleh sebab itu, kontrak jenis ini tidak memberikan imbal hasil yang pasti, baik nilai imbal hasil maupun waktu. Jenis-jenis natural uncertainty contract antara lain:
  1.  Mudharabah: yaitu bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih, dimana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha dengan nisbah bagi hasil atas keuntungan yang diperoleh menurut kesepakatan dimuka, sedangkan apabila terjadi kerugian hanya ditanggung pemilik dana sepanjang tidak ada unsure kesengajaan atau kelalaian oleh mudharib.
  2.  Musyarakah: akad kerjasama yang terjadi antara pemilik modal (mitra musyarakah) untuk menggabungkan modal dan melakukan usaha secara bersama dalam suatu kemitraan, dengan nisbah bagi hasil sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal.
  3.  Sukuk (obligasi syariah): merupakan surat utang yang sesuai dengan prinsip syariah.
  4.  Saham syariah yang produknya harus sesuai syariah. Syarat lainnya: a) perusahaan tersebut memiliki piutang dagang yang relative lebih kecil dibandingkan total asetnya, b) perusahaan tersebut memiliki utang yang kecil dibandingkan nilai kapitalisasi pasar, c) perusahaan memiliki pendapatan bunga kecil.

Natural Certainty Contract
Merupakan kontrak yang diturunkan dari teori pertukaran, dimana kedua belah pihak saling mempertukarkan asset yang dimilikinya, sehingga objek pertukarannya pun harus ditetapkan di awal akad dengan pasti tentang jumlah, mutu, harga, dan waktu penyerahan. Dalam kondisi ini secara tidak langsung kontrak jenis ini akan memberikan imbal hasil yang tetap dan pasti karena sudah diketahui ketika akad. Jenis dari kontrak ini ada beberapa, antara lain:
  1.  Murabahah: transaksi penjualan barang dengan menyatakan biaya perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati antara penjual dan pembeli.
  2.  Salam: transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada. Barang diserahkan secara tangguh, sedangkan pembayarannya dilakukan secara tunai.
  3.  Istishna’: memiliki system yang mirip dengan salam, namun dalam istishna’ pembayaran dapat dilakukan di muka, cicilan dalam beberapa kali (termin) atau ditangguhkan selama jangka waktu tertentu.
  4.  Ijarah: akad sewa-menyewa antara pemilik objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan manfaat atas objek sewa yang disewakan.

Related : Pengertian Akad Tijarah dan Jenisnya

4 Responses to " Pengertian Akad Tijarah dan Jenisnya "

  1. sya baru tahu gan kirain yang di maksud kan itu ya sewaktu nikah saja..
    ternyata untuk perjanjian juga di namakan akhd ya..
    dan apakah memang akhad tersebut harus di atas al-quran atau sebatas surat perjanjian juga bis?
    terimakasih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Arti kata Akad adalah perjanjian, perikatan atau persetujuan.
      Akad tidak harus dilaksanakan diatas Al-Quran, yang terpenting adalah kesungguhan dari dalam diri/hati kita untuk menjalankan akad tersebut.

      Delete
  2. assalamualaikum..
    terimakasih ustadz untuk postingannya ;)

    insya alloh bermanfaat http://obatdiabetesalamijg.com/

    ReplyDelete

Komentar, Kritik & Saran dapat Ditulis Disini..