Pengertian Riba dan Jenisnya


Accounting Media – Riba berasal dari bahasa Arab yang berarti tambahan (Al-Ziyadah), berkembang (Al-Nuwuw), meningkat (Al-Irtifa’), dan membesar (Al-‘uluw). Setiap tambahan yang diambil tanpa adanya suatu penyeimbang atau pengganti (‘iwad) yang dibenarkan syariah adalah Riba. Hal yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau komesil yang melegitimasi adanya penambahan secara adil, seperti jual beli, sewa menyewa, atau bagi hasil proyek, dimana dalam transaksi tersebut ada faktor penyeimbang berupa ikhtiar/usaha, risiko dan biaya (Antonio, 1999). Larangan riba sebenarnya tidak berlaku untuk agama Islam saja, melainkan juga diharamkan oleh seluruh agama selain Islam (Yahudi dan Nasrani).

Riba bisa dibedakan menjadi dua, yaitu Riba Nasi’ah dan Riba Fadhl. Berikut adalah penjelasan dari kedua bentuk Riba tersebut.
  1.  Riba Nasi’ah
Riba Nasi’ah adalah riba yang muncul karena utang-piutang, riba nasi’ah dapat terjadi dalam segala jenis transaksi kredit atau utang-piutang dimana satu pihak harus membayar lebih besar dari pokok pinjamannya. Kelebihan dari pokok pinjamannya dengan nama apapun (bunga/interest/bagi hasil), dihitung dengan cara apapun (fixed rate atau floating rate), besar atau kecil semuanya itu tergolong riba, sesuai QS 2:278-280.
Kelebihan tersebut dapat berupa suatu tambahan atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang. Untuk kelebihan jenis ini ada yang menyebutnya riba qard. Misalnya Bank sebagai kreditor memberikan pinjaman dan mensyaratkan pembayaran bunga yang besarnya ditentukan terlebih dahulu di awal transaksi, bunga inilah yang termasuk dalam riba nasi’ah. Demikian pula bunga yang dibayarkan bank atas deposito atau tabungan nasabahnya.
Selain itu, kelebihan tersebut dapat berupa tambahan yang melebihi pokok pinjamannya karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan. Atas kelebihannya ada yang menyebut riba jahiliyyah.
  2. Riba Fadhl
Riba Fadhl adalah riba yang muncul karena transaksi pertukaran atau barter. Riba jenis ini dapat terjadi apabila ada kelebihan/penambahan pada salah satu dari barang ribawi/barang sejenis yang dipertukarkan baik pertukaran dilakukan dari tangan ke tangan (tunai) atau kredit. Contoh: menukar perhiasan perak seberat 40 gram dengan uang perak (dirham) senilai 3 gram. Selain itu, riba fadhl dapat terjadi karena pertukaran atau barter barang tidak sejenis yang dilakukan secara kredit. Contoh: transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan dengan cara tunai (spot).

Demikian penjelasan mengenai Pengertian Riba dan Jenisnya. Sumber artikel ini dari buku “Akuntansi Syariah di Indonesia” karangan Sri Nurhayati-Wasilah yang diterbitkan oleh Salemba Empat. Terimakasih.

Related : Pengertian Riba dan Jenisnya

0 Response to " Pengertian Riba dan Jenisnya "

Post a Comment

Komentar, Kritik & Saran dapat Ditulis Disini..